SURABAYA (RadarJatim.id) — Ekosistem media digital kini berubah dengan cepat melampaui proses produksi dari sebagian besar media siber yang ada. Karena itu, para pengelola media hendaknya mampu beradaptasi dengan cepat dalam merespon audiens jika ingin tetap bertahan.
Hal itu terungkap dalam forum forum Local Media Community (LMC) bertajuk “Keberlanjutan Media dan Ekosistem” yang digelar di Whiz Luxe Hotel Spazio Surabaya, Kamis (13/8/2026). Tren perubahan pembaca media, terutama media siber (online) dan bagaimana menyikapinya dibedah dalam forum ini.
CEO Suara.com yang juga inisiator LMC, Suwardjono, menyebut, kondisi tersebut menjadi tantangan terbesar bagi pengelolaan media lokal yang selama ini masih menjadikan website sebagai pusat utama distribusi berita.
Dikatakan, tren distribusi iklan kini banyak berubah dari media digital langsung masuk ke entitas atau komunitas, terutama pada Gen-Z. Mereka banyak memanfaatkan media sosial (medsos) sebagai sarana komunikasi yang cepat dan murah, termasuk dalam meraih iklan.
“Ini fakta, bahwa trafik media-media besar dalam dua tahun terakhir turun. Namun medsos justru naik drastis. Inilah yang banyak dimanfaatkan oleh Gen-Z dan masyarakat saat ini. Karena itu, jika ingin eksis dan tidak mau ada problem, media lokal harus bisa cepat beradaptasi,” ujar Suwardjono mengingatkan.
Dalam forum itu terungkap, sebagian besar pembaca dari generasi Gen-Z tidak lagi selalu datang langsung ke halaman utama media, tetapi menemukan informasi melalui mesin pencari, media sosial, video, hingga platform berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Perubahan perilaku tersebut, menurutnya, menjadi salah satu tantangan terbesar bagi pengelola media lokal saat ini. Hal itu bukan saja terkait distribusi konten, tetapi juga menyentuh model bisnis, pola kerja newsroom, pengukuran kinerja, hingga kemampuan media mempertahankan hubungan dengan audiens. Karena itu, ia mengingatkan kembali agar pengelola media lokal mampu beradaptasi dengan cepat, jika tidak ingin terjadi problem yang membuatnya terpuruk.
Forum tersebut diikuti 40 pimpinan media lokal dan regional dari Jawa dan Bali. Peserta terdiri atas pemimpin redaksi, pemimpin perusahaan, pemilik media, hingga redaktur senior. Mereka datang dari berbagai daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, dan Bali.
Perkuat Medsos
Suwardjono menyarankan, tren perubahan tersebut perlu disikapi dengan memperkuat dan memaksimalkan akun-akun medsos yang dimiliki oleh pengelola media lokal. Jika tidak siap, itu akan menjadi problem dan batu sandungan dalam pengelolaan perusahaan, terutama dalam pengelolaan media digital.
“Teman-teman yang biasa di pemerintahan, dari pusat hingga daerah, juga mendapati fakta, bahwa belanja iklan di sana terus turun. Bahkan untuk tahun depan, saat ini sudah ada yang bilang tidak ada belanja iklan atau anggaran komunikasi lagi,” tambahnya.
Suwardjono yang banyak berinteraksi dengan para pengelola media lokal di berbagai daerah di Indonesia ini memahami betapa berat tantangan media lokal saat ini. Meski demikian ia meyakinkan, peluang sama sekali belum tertutup untuk bisa bertahan dan ekesis. Karena itu, ia minta para pengelola media lokal memahami empat lanskap penting dalam ekosistem media yang selalu berubah. Keempatnya: audiens, teknologi/platform, aspek bisnis, dan produksi (konten).
“Yang perlu diperkuat saat ini adalah bagaimana konten kita bisa benar-benar berdampak bagi publik, termasuk melalui optimalisasi platform yang ada,” katanya.
Dalam paparan forum LMC, Indonesia disebut memiliki sekitar 230 juta pengguna internet dan 180 juta identitas pengguna media sosial. Jumlah tersebut membuat persaingan untuk mendapatkan perhatian publik, termasuk dalam belanja iklannnya, semakin ketat. Setiap hari, masyarakat berhadapan dengan arus informasi dari media, kreator konten, platform digital, hingga berbagai sumber berbasis AI yang memiliki kecepatan luar biasa.
Dalam situasi seperti itu, kualitas jurnalistik tetap menjadi fondasi, tetapi kemampuan mendistribusikan informasi juga menjadi semakin menentukan. Media, lanjutnya, tidak cukup hanya mampu memproduksi berita. Newsroom perlu memahami bagaimana sebuah berita bisa ditemukan oleh audiens, format yang sesuai untuk setiap platform, serta bagaimana membangun hubungan agar pembaca kembali mengonsumsi produk jurnalistik yang sama.
Sementara Adeel Farhan, Head of News Partnerships South Asia Google, yang hadir dalam forum LMC itu melihat perubahan perilaku audiens sebagai salah satu faktor yang mendorong media melakukan transformasi. Berdasarkan data yang dirujuk dari Reuters Institute dan Data Reportal 2026, 54 persen audiens global mengakses berita melalui media sosial dan jaringan video. Sementara akses langsung ke situs website atau aplikasi berita berada di angka 51 persen.
Pada saat yang sama, konsumsi video berita semakin kuat. dikatakan, sekitar 77 persen masyarakat global mengonsumsi video berita secara daring setiap pekan. Perubahan itu menunjukkan, bahwa video tidak lagi hanya menjadi pelengkap berita teks. Bagi sebagian audiens, lanjut Adeel, video justru menjadi pintu pertama untuk menemukan sebuah informasi. (har)







