SIDOARJO (RadarJatim.id) –– Upaya meningkatkan kualitas pembelajaran, SMP Negeri 6 Sidoarjo telah menggelar kegiatan workshop peningkatan kompetensi dan keprofesionalan berkelanjutan bagi para tenaga pendidik.
Langkah ini diambil sebagai komitmen sekolah dalam mendorong guru agar terus belajar, berkembang, serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya demi memberikan layanan terbaik bagi peserta didik.
Prosesi pembukaan dilakukan oleh Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Sidoarjo Dr. Netti Lastiningsih, M.Pd didampingi Plt Kepala SMP Negeri 6 Sidoarjo Yuniar Poerbandini, S.Pd M.Pd pada (25/7/2026) di Sun Hotel Sidoarjo
Workshop yang diikuti seluruh para guru dan GTK SMP Negeri 6 Sidoarjo juga menghadirkan fasilitator Nasional Pendidikan Inklusi Much. Mujiono, S.Pd dan Setya Ardhianta selaku praktisi dan Inspiring Coach.
Plt Kepala SMP Negeri 6 Sidoarjo Yuniar Poerbandini mengatakan kalau pelatihan tersebut, terdapat dua fokus materi utama yang diberikan, yaitu tentang pembelajaran Numerasi berbasis digital dan AI (Artificial Intelligence)
”Latar belakang materi ini didasari oleh adanya penurunan nilai numerasi pada Rapor Pendidikan SMP Negeri 6 Sidoarjo,” jelasnya.
Sebagai langkah evaluasi dan perbaikan, sekolah mengambil kebijakan untuk menyelenggarakan pelatihan numerasi yang dipadukan dengan digitalisasi, khususnya pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Melalui numerasi berbasis AI ini, proses pembelajaran diharapkan menjadi lebih interaktif dan menarik bagi para siswa yang sudah terbiasa dengan dunia digital. “Diharapkan setelah mengikuti pelatihan, para guru dapat mengimplementasikannya secara langsung di kelas,” harapnya.
Materi kedua adalah tentang Penguatan Strategi Pendidikan Inklusi, yang menyasar peningkatan kualitas layanan pendidikan inklusi.
Sebagai salah satu sekolah penyelenggara pendidikan inklusi, SMP Negeri 6 Sidoarjo saat ini memiliki 23 Peserta Didik Penyandang Disabilitas (PDPD) yang tersebar dari kelas 7 hingga kelas 9.
”Jadi sebagian besar mereka merupakan slow learner (lambat belajar), serta terdapat siswa autis di jenjang kelas 7 baru. Sekolah menerapkan sistem inklusi penuh dengan memasukkannya dalam kelas reguler, agar mereka dapat berbaur dan bersosialisasi dengan siswa lainnya,” jelas Bu Yuniar_sapaan sehari-hari.
Meskipun bergabung di kelas reguler, kami juga menyediakan Ruang Sumber dengan jadwal terstruktur. “Di ruang ini, mereka mendapatkan pendampingan khusus sesuai kebutuhan individunya, seperti latihan membaca (drill) maupun berhitung,” terangnya.
Sementara itu Dr. Netti Lastiningsih juga menekankan betapa pentingnya peningkatan kualitas (upgrading) secara berkelanjutan bagi para pendidik dalam menghadapi tantangan pendidikan modern.
Dalam arahannya, bahwa profesi di bidang pendidikan adalah amanah besar yang tidak dimiliki semua orang.
Mengingat pelayanan dasar utama dalam suatu pemerintahan bertumpu pada bidang pendidikan dan kesehatan, sektor pendidikan dituntut untuk terus bertransformasi melalui empat pilar pendidikan. “Salah satunya adalah Media Sosial dan Dunia Maya,” katanya.
Ia terangkan, untuk menghadapi peserta didik saat ini, yang didominasi oleh Generasi Alpha, pola pendampingan pendidikan tidak bisa lagi hanya mengandalkan metode lama. Generasi Alpha dikenal sebagai anak-anak yang multitalenta, cepat merespons, dan sangat melek teknologi, meski di sisi lain memiliki kerentanan terkait kesehatan mental.

Untuk merespons tantangan tersebut, terdapat penambahan satu pilar penting dalam pilar pendidikan modern, yaitu keluarga/orang tua, sekolah, masyarakat, medsos dan media maya.
Lanjutnya, generasi kita mungkin berada di Generasi X, sementara anak-anak didik kita sekarang ini adalah Generasi Alpha. Kesenjangan ini harus kita jembatani. Seperti pesan bijak.
“Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman yang berbeda dengan kita. Makanya, kehadiran pilar media sosial dan media maya tidak dapat dihindari,” katanya.
Berdasarkan hasil interaksi dengan ratusan siswa SMP di Sidoarjo, terungkap fakta bahwa sebagian besar peserta didik saat ini justru lebih nyaman mengungkapkan isi hati (curhat) melalui media sosial ketimbang kepada orang tua maupun guru di sekolah.
Oleh karena itu, para pendidik diharapkan tidak menolak keberadaan dunia digital, melainkan mampu merangkul dan mengarahkannya secara bijak. “Demi mendukung pencapaian visi-misi pendidikan nasional serta program prioritas Pemerintah Kabupaten Sidoarjo,” harap Dr. Netti Lastiningsih.(mad)






