SIDOARJO (RadarJatim.id) — Menghafal Al-Qur’an hingga 30 juz di usia belia bukanlah hal yang mustahil. Hal ini dibuktikan oleh Kaila Almira Riviera, seorang siswi kelas 6 ICP 3 MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo. Berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz dalam kurun waktu 3 tahun berkat ketekunan dan metode belajar yang unik.
Usai pelepasan kelulusan siswa MI Muslimat NU Puncang, pada (8/6/2026) pagi, Kayla menceritakan bahwa ketertarikannya menghafal Al-Qur’an bermula secara tidak sengaja saat ia membuka dan membaca Al-Qur’an di malam hari. Sejak momen tersebut, ia merasa tertarik dan mulai menargetkan hafalan satu lembar setiap harinya.
“Sebelum hafal, surat atau ayat Al Qur’an harus dibaca-baca berulang setiap tiga kali. Setelah itu akan hafal sendiri,” ungkap Kaila saat menjelaskan metodenya yang terbilang efektif, di mana ia hanya perlu mengulang bacaan sebanyak tiga kali untuk bisa menghafalnya.
Dalam proses setoran hafalan, Kayla mampu menyetorkan 5 halaman/lembar setiap harinya kepada para guru. Menariknya, jika terjadi kesalahan saat proses simak, Kaila terbiasa untuk membetulkan hafalannya sendiri secara mandiri tanpa bantuan dari guru.
Perjalanan Kayla tentu tidak lepas dari dukungan penuh kedua orang tuanya yang selalu memberikan motivasi, memenuhi kebutuhannya, hingga menghadiahi Al-Qur’an yang bagus untuk menunjang proses belajarnya.
Selain keluarga, pihak sekolah juga menjadi support system pertama sejak Kayla duduk di kelas 1, baik melalui bimbingan di sekolah maupun dengan mengikutsertakannya dalam berbagai perlombaan. Salah satu prestasi yang pernah diraihnya adalah menjadi juara dalam lomba sambung ayat di tingkat kabupaten.
Meski memiliki ketertarikan yang besar terhadap Al-Qur’an, Kayla mengaku sebenarnya memiliki cita-cita ingin menjadi seorang dokter. “Jika nanti menjadi dokter, ingin memberikan pertanyaan hafalan Al-Qur’an kepada setiap pasien yang datang berkonsultasi kepadanya,” ungkapnya sambil tertawa.
Berkat prestasinya yang luar biasa ini, Kayla juga berhasil mendapatkan beasiswa bebas biaya pendidikan ke jenjang MTs Bilingual NU Pucang, demi menyesuaikan dengan kondisinya saat ini, sebelum nantinya merencanakan untuk melanjutkan sekolah MA di Malang.
Sementara itu, Ketua Penjamin Mutu (Quality Assurance), Syamsuhari, ST, S.Pd, M.M M.Pd.I menjelaskan langkah ini diambil berdasarkan fakta bahwa para penghafal Al-Qur’an pada umumnya memiliki kecerdasan pikiran yang tinggi. Namun, selama ini kurikulum di pondok pesantren dinilai masih lebih menitikberatkan pada proses hafalan ayat-ayat suci, sementara porsi untuk ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dirasa masih kurang.
“Rata-rata penghafal Al-Qur’an itu pikirannya cerdas. Dan selama ini, yang lulusan pesantren itu yang ditekankan pada proses penghafalan Al-Qur’an, ilmu pengetahuan dan teknologinya masih kurang,” ungkapnya.
Untuk menjembatani celah tersebut, program ini hadir sebagai wadah penggemblengan khusus. Anak-anak yang sudah memiliki dasar hafalan Al-Qur’an yang kuat dan pintar akan difokuskan untuk mendalami ilmu eksakta dan sains.
“Nah, itu kami gembleng anak-anak itu. Yang sudah menghafal Al-Qur’an, Al-Qur’annya sudah pintar, tinggal digembleng eksaktanya, sainsnya,” tegas Syamsuhari.
Guna memberikan kesempatan yang luas dan menjaring potensi terbaik, program pembinaan ini bersifat full bebas biaya alias gratis bagi para santri yang memenuhi kualifikasi. “Program ini diharapkan dapat melahirkan ilmuwan-ilmuwan Muslim masa depan yang seimbang antara IPTEK dan IMTAQ (Iman dan Taqwa),” pungkasnya.(mad)






