SIDOARJO (RadarJatim.id) — Perkembangan program kelas Tahfidz di SMP Sepuluh Nopember Sidoarjo menunjukkan perkembangan yang sangat positif dan cepat. Selain karena tingginya minat dari masyarakat dan orang tua murid, program ini juga berkomitmen melahirkan generasi yang tidak hanya hafal Al-Qur’an, tetapi juga memiliki akhlakul karimah.
Koordinator Tahfidz SMP Sepuluh Nopember, Irfan Wahyudi, S.Pd.I., mengungkapkan bahwa pihak sekolah menerapkan seleksi yang cukup ketat bagi calon siswa yang ingin masuk ke kelas khusus ini. “Untuk syarat masuk di kelas tahfidz kita benar-benar selektif. Anak yang bisa diterima wajib bisa membaca Al-Qur’an, jadi ada tes membaca Al-Qur’an terlebih dahulu,” ungkap Irfan.
Lanjutnya, demi menjaga kualitas hafalan siswa, kami telah menjalin kerja sama (Memorandum of Understanding) dengan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sidoarjo yang kini sudah berjalan selama dua tahun. Melalui kerja sama ini, penguji untuk kegiatan Tasmi’ (ujian kenaikan juz) petugas langsung dari pihak Kemenag Sidoarjo.
Sistem ujian Tasmi’ di sekolah ini juga tidak dilakukan secara formalitas atau sekadar sambung ayat. Siswa diwajibkan membaca secara utuh dari ayat pertama hingga ayat terakhir di satu juz penuh di hadapan penguji. “Setelah dinyatakan lulus, siswa akan mendapatkan sertifikat resmi yang ditandatangani langsung oleh Kepala Kemenag,” jelasnya.
Untuk mendukung fokus hafalan siswa, pihak sekolah sengaja memodifikasi kurikulum khusus pada kelas tahfidz ini dengan mengurangi dua mata pelajaran umum, yaitu Bahasa Jepang dan Bahasa Mandarin. Sebagai gantinya, porsi jam pelajaran Al-Qur’an ditambah menjadi 22 Jam Pelajaran (JP).
Setiap harinya, setelah melakukan murajaah dan doa pagi, para siswa langsung bersiap untuk menyetorkan hafalan mereka kepada guru tahfidz masing-masing, hingga waktu istirahat pertama. Setelah itu, barulah siswa mengikuti mata pelajaran umum serta program taksin pada siang hari untuk memperbaiki kualitas bacaan, tajwid, serta makharijul huruf mereka.
“Jadi selain Mapel umum, kelas ini juga dibekali materi keagamaan madrasah seperti Akidah Akhlak dan Fikih,” terang ustad Irfan.
Program Tahfiz sudah memasuki tahun kedua berjalan, kini telah memiliki dua kelas, yaitu kelas 7 dan kelas 8. Irfan menekankan bahwa perbedaan karakter dan sikap anak-anak di kelas tahfidz terlihat sangat menonjol dan membawa dampak positif yang besar jika dibandingkan dengan teman yang lain.
Di kelas tahfidz, para siswa ditekankan untuk mempraktikkan adab dan akhlak sehari-hari yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Semua siswa diwajibkan untuk makan dan minum dalam posisi duduk. Ketika berpapasan dengan guru, siswa wajib bersalaman menggunakan dua tangan dan mengucapkan salam. Siswa juga diwajibkan mengucapkan salam setiap kali akan memasuki ruangan manapun di lingkungan sekolah.

Program keunggulan kelas tahfidz diantaranya adalah Tasmi’ dengan Kemenag Sidoarjo, Camp Tahfidz di Pondok Pesantren Tahfidz di Pacet Mojokerto. “Kami memang sengaja mengunggulkan kelas ini tidak hanya dari segi hafalan Al-Qur’an saja, tetapi bagaimana agar mereka juga tumbuh menjadi pribadi yang memiliki akhlakul karimah,” pungkas ustad Irfan, pada (4/6/2026) pagi.
Sementara itu, Khairana Filza Aurofiqah kelas 8 Tahfiz mengaku senang mengikuti program kelas Tahfiz sejak kelas 7, karena bisa membawa perubahan sikap dan perilaku. Dorongan dan motivasi dari orang tua menjadi kunci utama bagi Filza_sapaan akrabnya.
Berkat dukungan tersebut, Filza mengaku sangat bersemangat mengikuti program tahfiz demi mewujudkan impian menjadi anak penghafal Al-Qur’an. Hingga saat ini, Filza bersyukur telah berhasil menghafal sebanyak 3 juz.
Baginya, proses pembelajaran tahfiz terasa sulit namun tetap seru dan menyenangkan. Ia juga merasakan adanya perubahan positif pada sikap, karakter, dan perilakunya semenjak aktif menghafal Al-Qur’an.
Dalam membagi waktu sehari-hari, Filza menjelaskan bahwa aktivitasnya dimulai dengan murajaah di pagi hari. Setelah itu, ia melakukan setoran hafalan hingga waktu istirahat tiba, yang kemudian dilanjutkan dengan pembelajaran biasa. Pada siang harinya, kegiatan diisi dengan kelas tahsin.
Meski sempat mengaku bahwa momen paling menegangkan adalah saat melakukan setoran hafalan, karena takut salah. “Karena sudah komitmen ya tetap jalani saja hingga sekarang, Alhamdulillah sudah berhasil hafal 3 juz,” ungkap Filza dengan cerianya.(mad)







