• Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Contact
Minggu, 21 Juni 2026
No Result
View All Result
e-paper
Radar Jatim
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
No Result
View All Result
Radar Jatim
No Result
View All Result
Home Esai/Kolom

Menulis dari Ruang Ketiga: Refleksi, Perlawanan, dan Ibadah

by Radar Jatim
21 Juni 2026
in Esai/Kolom
0
Menulis dari Ruang Ketiga: Refleksi, Perlawanan, dan Ibadah

Much. Khoiri

9
VIEWS

Oleh Much. Khoiri

Pernahkah Anda merasa, bahwa suara Anda tidak terdengar di tengah hiruk-pikuk dunia? Bahwa apa yang Anda pikirkan, rasakan, dan yakini seolah tertelan oleh gemerlap media sosial yang mengajak kita semua untuk terus berlari, tanpa pernah berhenti merenung? Saya merasakan itu.

Dan dari kegelisahan itulah buku saya, Menyuarakan Creative (Nonfiction) Writing dari Ruang Ketiga (2024), lahir. Buku ini bukanlah karya akademik yang dirancang di ruang kelas yang sunyi. Ia lahir dari “rahim pemikiran kreatif tentang berbagai fenomena di sekitar penulis”, sebuah ungkapan yang saya tulis sendiri di halaman pembuka untuk mengingatkan, bahwa menulis, bagi saya, adalah respons hidup terhadap apa yang saya lihat, dengar, dan rasakan.

Website Pribadi sebagai Ruang Ketiga

Gagasan tentang “ruang ketiga” (third space) awalnya adalah konsep yang saya kenal dari dunia akademik, dari sosiolog Ray Oldenburg. Tapi saya tidak ingin membahasnya dengan rumus-rumus yang terlalu kaku. Sederhananya: tempat ini di luar rumah, ruang kerja atau sekolah, tetapi menjadi wadah netral untuk bersosialisasi, melepas penat, dan membangun komunitas.

Di sini saya ingin menjadikannya nyata. Maka saya menjadikan website pribadi saya —muchkhoiri.com—sebagai ruang ketiga itu: tempat yang bebas untuk menulis tanpa tekanan, tanpa target pasar, tanpa keharusan untuk menjadi sempurna. Di sanalah saya mulai menuliskan refleksi-refleksi kecil —di antara ratusan tulisan lain— yang kemudian terkumpul menjadi 48 tulisan dalam buku ini.

Saya membaginya menjadi 4 kategori: literasi buku, praktik literasi, literasi budaya, dan literasi hikmah. Masing-masing adalah sudut pandang yang berbeda dalam cara saya memaknai kata “literasi.” Bagi saya, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis. Ia adalah cara kita membaca kehidupan, membaca budaya, dan pada akhirnya, membaca diri sendiri.

Menulis Buku Hadiah untuk Diri Sendiri

Salah satu tulisan yang paling saya sukai di bagian awal buku ini adalah “Menulis Buku untuk Hadiah Ultah.” Sejak 2016, saya menjadikan buku sebagai hadiah ulang tahun untuk diri saya sendiri: setiap tahun. Bukan karena saya sombong, tetapi karena saya ingin mengabadikan perjalanan kreatif saya sendiri.

Ada tujuh alasan yang saya tuliskan di sana: mulai dari keunikan, kewajiban menulis, hingga personal branding. Tapi yang paling dalam, saya menulis untuk mengingatkan diri saya, bahwa waktu terus berjalan, dan kata-kata adalah satu-satunya cara saya meninggalkan jejak.

Saya percaya, seperti yang saya tulis dalam buku tersebut, bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian (kutipan dari Pramoedya Ananta Toer). Bukan dalam arti nama saya dikenang, melainkan dalam arti bahwa gagasan-gagasan yang saya tulis bisa terus hidup, menyentuh orang lain, bahkan setelah saya tidak lagi di sini.

Terus Berusaha Literat

Di bagian literasi praktik, saya menuliskan sebuah refleksi yang sampai sekarang masih saya renungkan: Nabi Muhammad SAW —yang digelari ummi— adalah manusia paling literat. Bukan karena ia bisa membaca dan menulis secara harfiah, tetapi karena ia “melek hidup.” Beliau membaca tanda-tanda zaman, membaca hati manusia, dan membaca wahyu dengan kesadaran yang sempurna.

Bagi saya, beliau adalah teladan sempurna. Maka, saya menulis itu bukan untuk menggurui, tetapi untuk mengingatkan diri sendiri bahwa literasi sejati bukanlah soal gelar atau jumlah buku yang dibaca. Literasi adalah praktik “membaca” dalam arti luas. Literasi adalah tentang keberanian untuk terus belajar, terus bertanya, dan terus menuliskan apa yang kita yakini.

Menulis untuk Kesehatan, Menulis untuk Bangsa

Saya juga menulis tentang pengalaman pribadi yang mungkin terdengar sepele tetapi berdampak besar: menulis sebagai terapi kesehatan mental. Dalam “Menulis: Mencegah Kepikunan, Menjaga Kewarasan”, saya menceritakan tentang gegar otak ringan yang pernah saya alami dan bagaimana menulis menjadi jalan saya untuk tetap waras. Saya menggunakan ilustrasi sederhana tentang neuron dan ingatan, bukan untuk menjelaskan sains, melainkan untuk menunjukkan bahwa menulis adalah latihan otak sekaligus latihan jiwa.

Tak hanya itu, saya juga menulis tentang bahasa Indonesia sebagai perekat budaya. Di tengah keberagaman etnik dan bahasa daerah, saya percaya bahwa bahasa Indonesia adalah fondasi persatuan yang harus kita rawat. Ini bukan sekadar isu kebangsaan yang besar, tetapi juga tanggung jawab setiap penulis untuk menggunakan bahasa dengan cermat dan penuh kesadaran.

Titik Balik di Masa Pandemi

Bagian paling personal dalam buku ini, bagi saya, adalah literasi hikmah. Di sanalah saya menulis tentang sakit, keluarga, mudik, dan pengalaman spiritual yang mengubah cara pandang saya. Salah satu momen yang paling saya ingat adalah saat saya sakit parah selama pandemi Covid-19. Saya merasa berada di titik terendah. Tapi dari situasi itu, saya menemukan cahaya.

Saya mengutip QS Al-Baqarah: 257: “Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan ke cahaya.” Saya tidak menulis ayat itu untuk menggurui, tetapi untuk mengingatkan diri sendiri, bahwa setiap kegelapan pasti memiliki jalan keluar. Dan bagi saya, jalan keluar itu salah satunya adalah melalui kata-kata.

Buku Ini Tidak Sempurna, dan Itu Jujur

Saya menyadari, bahwa buku ini memiliki beberapa kelemahan. Karena tulisan-tulisan di dalamnya berasal dari website yang saya tulis dalam rentang waktu yang panjang, ada argumen yang berulang, misalnya, soal alasan menulis buku. Bagi pembaca yang membacanya secara runtut, mungkin terasa redundan. Dan, gaya bahasa metaforis yang saya gunakan —kadang saya sadar terlalu berlebihan— dapat mengurangi ketajaman analitis pada beberapa bagian.

Namun, saya menulis buku ini bukan agar menjadi sempurna, melainkan untuk menghayati proses. Saya menulisnya untuk menjadi jujur. Jujur, saya perlu mempertegas gagasan-gagasan penting yang ada di benak saya. Dan kejujuran itu, saya harap, bisa menjadi undangan bagi siapa pun yang merasa suaranya belum terdengar untuk mulai menulis dari ruang ketiga masing-masing.

Jalan Ini untuk Siapa Saja

Buku ini bukanlah kumpulan teori menulis yang rumit. Ia adalah kumpulan cerita, refleksi, dan ajakan. Ia cocok untuk guru yang ingin menanamkan budaya literasi di kelas. Untuk dosen yang ingin menginspirasi mahasiswanya. Untuk pegiat literasi yang lelah berjuang sendirian. Untuk penulis pemula yang masih ragu-ragu. Dan, untuk para pensiunan yang memiliki banyak pengalaman, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.

Akhirnya, saya menutup buku ini dengan sebuah pesan sederhana: “Menulis kebaikan merupakan magnet perekat dan sekaligus obor pencerah bagi masyarakat.” Saya percaya itu. Dan, saya menulis buku ini sebagai obor kecil, dari ruang ketiga saya, untuk siapa pun yang ingin ikut menyalakan cahaya. {*}

Much. Khoiri (nama pena Dr Drs Much. Koiri, MSi) adalah dosen Kajian Sastra/Budaya dan Menulis Kreatif di FBS Unesa, founder Rumah Virus Literasi, editor, penulis 81 buku, serta peresensi dan penulis esai lepas untuk berbagai media massa. Profil lengkap: https://muchkhoiri.com/2021/01/tentang-penulis/*

Tags: IbadahmenulisMuch. KhoiriPerlawananRefleksiRuang Ketiga

Related Posts

Menulis sebagai Wahana Perjuangan Nasib

Menulis sebagai Wahana Perjuangan Nasib

by Radar Jatim
16 Juni 2026
0

Oleh Much. Khoiri Tahun Baru...

Sastra Tidak Pernah Lahir dari Kebijakan yang Baik

Sastra Tidak Pernah Lahir dari Kebijakan yang Baik

by Radar Jatim
1 Juni 2026
0

Oleh Much. Khoiri Ada keyakinan...

Perkembangan Terkini Menulis Kreatif

Menduniai Buku, Menjalani Tugas Editor

by Radar Jatim
11 Mei 2026
0

Oleh Much. Khoiri Entah sejak...

Load More
Next Post
Bambang Haryo Minta Harga Telur Sesuai HET, Untuk Jaga Keberlanjutan Usaha Peternak

Bambang Haryo Minta Harga Telur Sesuai HET, Untuk Jaga Keberlanjutan Usaha Peternak

Radar Jatim Video Update

Berita Populer

  • Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Soft Launching KM Dharma Kencana V, Fasilitas Mewah Berkapasitas 1.400 Penumpang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Doakan Keluarga Besar SMK Antartika 2 Sidoarjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Analisis Semantik Puisi ‘Aku Ingin’ Karya Sapardi Djoko Damono

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kampus yang Tak Lagi Dihuni Intelek: Mengapa Dosen Mencari Eksistensi Diri di Luar Kampus?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Radar Jatim adalah media online Jatim yang memberikan informasi peristiwa dan berita Jawa Timur dan Surabaya terkini dan terbaru.

Kategori

  • Artikel dan Opini
  • Ekonomi Bisnis
  • Ekosistem Lingkungan
  • Esai/Kolom
  • Feature
  • Finance
  • HAM
  • Hukum dan Kriminal
  • Infrastruktur
  • Kamtibmas
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Lain-lain
  • Layanan Publik
  • Lifestyle
  • Literasi
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Ormas
  • Otomotif
  • Pariwisata
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pertanian
  • pinggiran
  • Politik
  • Religi
  • Sastra/Budaya
  • Sosial
  • Tekno
  • TNI
  • TNI-Polri
  • Transportasi
  • video
  • Wisata

Kami Juga Hadir Disini

© 2020 radarjatim.id
Susunan Redaksi ∣ Pedoman Media Siber ∣ Karir

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Tekno
  • Ekonomi Bisnis
  • Artikel dan Opini

© 2020radarjatim.id

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In