SIDOARJO (RadarJatim.id) – Masa liburan sekolah ternyata tidak semua pelajar memanfaatkan dengan bermain di tempat wisata atau bermain gawai. Ternyata masih banyak pelajar dan mahasiswa yang justru beramai-ramai mengujungi perpustakaan untuk membaca buku.
Pandangan tersebut telah ditunjukkan oleh Mutiara dan Natania, dua siswi yang hendak menginjak kelas 12 di SMA Negeri 1 Gedangan ini justru lebih memilih menghabiskan waktunya dengan membaca buku fisik di Perpustakaan Kabupaten Sidoarjo.
Saat ditemui di sela-sela aktivitas membaca mereka, pada (8/7/2026) pagi, Mutiara mengungkapkan bahwa membaca buku secara fisik memberikan sensasi dan tingkat kefokusan yang jauh lebih baik dibandingkan membaca melalui layar gawai.
“Kalau dari buku langsung itu jauh lebih fokus. Terus lebih enak bisa langsung memegang bukunya secara fisik. Disamping itu dari segi akuratannya juga lebih terjamin, karena penerbitnya jelas juga pengerangnya jelas,” ungkap Mutiara.
Selain masalah kenyamanan dan fokus, faktor akurasi informasi juga menjadi alasan utama mengapa mereka lebih memilih buku konvensional. Menurut mereka, buku fisik memiliki kredibilitas yang jelas karena mencantumkan nama pengarang serta penerbit yang valid.
Hal ini berbanding terbalik dengan informasi di internet atau media sosial yang kerap simpang siur. “Di sini kan pengarangnya jelas, penerbitnya jelas. Kalau di HP itu kadang-kadang (informasinya) seliweran, kurang jelas,” ungkapnya.
Keasyikan membaca buku juga diakui, Emily, siswi kelas 3 yang bersiap naik ke kelas 4 di SD Petra 12, justru menunjukkan kecintaan yang mendalam terhadap dunia literasi. Sambil pilih-pilih buku kesukaannya, Emily menceritakan bahwa kegemarannya membaca buku sudah dimulai sejak duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar. Ketertarikannya pada lembaran-lembaran kertas penuh ilmu dan cerita tersebut terus bertahan hingga saat ini.

Tak tanggung-tanggung, dalam hal preferensi bacaan, Emily menggemari seri buku pengetahuan populer “Why?” serta karya-karya dari penulis novel ternama tanah air, Tere Liye.
“Mulai suka membaca dari kelas 2, sampai sekarang,” ungkap Emily dengan polos saat ditanya mengenai awal mula kegemarannya tersebut.
Intensitas membaca Emily pun terbilang cukup tinggi untuk anak seusianya. Dalam satu hari, ia mampu menghabiskan satu hingga setengah buku. Guna memenuhi rasa ingin tahunya, Emily juga mengaku sering mengunjungi dan meminjam buku di perpustakaan.
Ketika ditanya mengenai kebiasaan bermain handphone (HP) layaknya anak-anak zaman sekarang, Emily mengaku jarang melakukannya dan lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama buku-buku koleksinya. Bagi Emily, membaca buku memberikan keasyikan tersendiri yang tidak ia temukan pada layar gawainya. “Jarang (main HP). Lebih senang buku, karena seru aja,” pungkasnya sembari tersenyum.
Bukan hanya pelajar, mahasiswa juga masih banyak yang memanfaatkan untuk membaca buku, seperti yang diungkapkan Rahmalia Atanti mahasiswi semester 4 Jurusan Ekonomi Bisnis di UPN Veteran Jawa Timur ini, mengaku lebih nyaman membaca buku dalam bentuk fisik ketimbang melalui layar ponsel.
Gadis asal Sedati, Sidoarjo ini membagikan ceritanya saat mengunjungi perpustakaan untuk meminjam buku. Tanti, sapaan akrabnya, membawa pulang tiga buah novel sekaligus, jumlah maksimal yang diperbolehkan oleh pihak perpustakaan. Tiga novel yang dipinjamnya kali ini berjudul Nothing Solid, Me and Mr. Writer, dan The Banker.

Saat ditanya mengapa dirinya masih gemar membaca buku fisik di era digital, Tanti mengungkapkan bahwa membaca melalui gawai justru membuatnya sulit fokus. “Kalau baca di gawai itu enggak fokus. Kadang nanti pindah ke aplikasi lain, jadi kalau baca di gawai itu sering enggak selesai dan lama harus scroll-scroll lagi, “ ujar Tanti.
Sebaliknya, dengan buku fisik, ia bisa menjauhkan ponselnya dan fokus membaca. Rasa penasaran dengan kelanjutan cerita membuatnya bisa menyelesaikan satu hingga dua buku hanya dalam waktu beberapa hari saja.
Minat baca Tanti ternyata sudah tumbuh sejak ia duduk di bangku SMA. Menariknya, kebiasaan ini semakin terbentuk karena ia sempat mengenyam pendidikan di sebuah pondok pesantren di Jombang. Lantaran aturan pesantren yang melarang santri membawa gawai, Tanti akhirnya melirik novel fisik sebagai sarana hiburan, dan kebiasaan positif tersebut terus terbawa hingga ia menjadi mahasiswi.
Sejak tahun 2024 setelah lulus SMA, Tanti rutin mengunjungi perpustakaan, setidaknya seminggu sekali, untuk meminjam buku. Selain novel, ia juga kerap meminjam buku pelajaran jika ada tugas kuliah yang perlu diselesaikan.
Bagi Tanti, buku fisik memiliki keunggulan tersendiri yang tidak dimiliki oleh platform digital. Selain mengandung banyak pesan dan pelajaran tersirat, buku fisik dinilai lebih tepercaya.
“Kalau di buku kan jelas penerbitnya, pengarangnya. Kalau di HP kan kadang-kadang ada hoaks, banyak hoaksnya,” tambahnya.
Pada kunjungan kali ini, Tanti tidak datang sendiri. Ia juga mengajak adiknya yang masih pelajar ke perpustakaan dengan harapan bisa menularkan minat baca yang sama, agar sang adik tidak melulu menghabiskan waktu bermain gawai seperti anak-anak pada umumnya.(mad)






