• Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Contact
Minggu, 20 September 2026
No Result
View All Result
e-paper
Radar Jatim
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
No Result
View All Result
Radar Jatim
No Result
View All Result
Home Artikel dan Opini

Mendidik Anak di Era Digital: Meramu Keniscayaan Teknologi dan Keteladanan

by Radar Jatim
20 September 2026
in Artikel dan Opini, pinggiran
0
Merdeka, tapi Belum

Suhartoko

25
VIEWS

Catatan Pinggian SUHARTOKO

Diakui atau tidak, melesatnya perkembangan eknologi digital berpengaruh cukup signifikan pada percepatan perkembangan emosional anak-anak. Lewat perangkat gawai atau handphone (HP) yang mereka miliki, anak-anak seakan lebih cepat “dewasa” melebihi usia rerata dalam perspektif psikologi perkembangan. 

Dampaknya juga beragam, seperti pisau bermata dua. Keberadaan alat komunikasi tersebut bisa bermanfaat, sekaligus bisa berbahaya bagi penggunanya. Karena itu, perlu sikap bijak dari orang tua dan para pendidik pada lembaga pendidikan dalam melakukan pendekatan dan pendampingan kepada mereka.

Dampak dari pesatnya kemajuan teknologi digital, tak heran jika anak yang berusia belum genap 5 tahun, misalnya, sudah bisa membuka dan berselancar dengan YouTube. Anak-anak setingkat SMP sudah memiliki tiga atau lebih akun media sosial (medsos), dan anak-anak SMA sederajat bisa menguasai cara melacak apa saja yang dikehendaki lewat kecerdasan buatan (Artificial intelligence/AI) atau platform lainnya, hanya dalam hitungan detik.

Di dunia anak dan remaja, teknologi digital bukan lagi pilihan dan barang baru. Lebih dari itu, ia merupakan “nyawa” yang mengakrabi dunia mereka, kapan pun mereka mau. Masalahnya, ketika arus teknologi berpacu begitu cepat –jika tak diantisipasi dan terlena–, karakter anak justru kerap tertinggal, bahkan secara perlahan bisa tergerus dan tercerabut dari akarnya.

Orang tua dan kalangan pendidik di berbagai jenjang kini berhadapan dengan generasi yang supercanggih secara teknologi, namun tak jarang rapuh secara mental. Ini konsekuensi logis yang sulit dihindari. Dan, inilah pentingnya penanaman fondasi yang kokoh di masa-masa tumbuh kembang anak, sehingga tak goyah begitu angin kehidupan menerpa.

Kehadiran teknologi, apalagi teknologi digital, memang tidak bisa dihindari atau bahkan ditolak. Ia merupakan keniscayaan dari proses kemajuan zaman yang lazim diwarnai oleh digitalisasi dalam banyak aspek kehidupan. Namun, ketika fondasi anak belum begitu kokoh dan secara selektif anak belum mampu melakukan secara optimal, di situlah peran orang tua dan pendidik sangat diperlukan.

Setidaknya, perlu pendampingan untuk mengarahkan gerak langkah anak agar tak terjerembab pada limbah digitalisasi yang nyaris tak terbendung. Dengan demikian, berbagai arus informasi yang masuk secara digital bisa disaring sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak.     

Digitalisasi di sekolah, misalnya, juga telah berjalan begitu masif. Banyak sekolah yang menuntut siswanya agar mengirimkan tugas via Google Classroom, pembelajaran secara daring via Zoom dan platform lainnya, les online, pembayaran biaya sekolah secara digital. Bahkan, tugas atau pekerjaan rumah (PR) untuk siswa SD juga banyak diarahkan pada pencarian video edukasi di TikTok atau YouTube.

Sekali lagi, sikap bijak dan proporsional mesti diterapkan di era digital saat ini. Menolak teknologi (digital) secara membabi buta sama halnya dengan mematikan akses anak terhadap masa depan. Tetapi, membiarkannya tanpa rambu-rambu yang memagari pertahanan, pada akhirnya menyerahkan anak ke pola algoritma.

Teknologi itu sesungguhnya bersifat netral. Seperti pisau, ia bisa untuk memasak, tetapi juga bisa untuk melukai. Yang menentukan adalah siapa yang memegang dan mengendalikan gagang pisau itu, yakni orang tua dan guru. Sementara mata pisau bisa diarahkan ke mana saja, banyak bergantung pada pengendalinya.

Layar Digital vs Keteladanan

Digitalisasi –jika tak dikendalikan dengan baik– akan mempercepat segalanya, kecuali terjadi proses keteladanan. Padahal banyak studi mengungkapkan, bahwa anak belajar 80% lewat teladan, bukan lewat ceramah.

Beberapa penyimpangan di era digital yang kerap terjadi, di antaranya, “anak konten” dan haus validasi. Banyak anak setingkat SD-SMP berlomba bikin konten joget, prank, atau roasting demi mengejar viewer. Kasus di Jakarta tahun 2025, misalnya, beberapa siswa SMP terlibat tawuran hanya untuk konten dan diunggah ke TikTok. Dampaknya, anak mengukur harga diri dari banyaknya ‘like’, sementara empati tumpul. Yang penting viral, bukan benar.

Kasus berikutnya terkait judi online (judol) dan pinjaman online (pinjol) berkedok game (Kominfo pada 2025). Tercatat, korban judol usia di bawah 18 tahun naik 3 kali lipat. Polanya: masuk lewat game, lalu ada top up diamond, selanjutnya diarahkan ke situs judi. Dampaknya: anak-anak SD sudah kenal istilah ‘WD, scatter, maxwin’. Nalar finansial mereka rusak (tepatnya dirusak) sejak dini.

Kasus yang juga menyita perhatian publik adalah kecanduan dan brain rot (penurunan kemampuan kognitif, fokus, dan berpikir kritis). Rata-rata screen time remaja Indonesia mencapai 8 jam 51 menit/hari.

Pada kasus tersebut, algoritma cenderung menyuguhkan konten pendek, cepat, dan memicu dopamine, yakni zat kimia alami di dalam tubuh yang bertindak sebagai neurotransmiter (pembawa pesan antarsel saraf di otak) sekaligus hormon. Dampaknya, daya fokus anak menjadi turun, malas membaca buku, gampang marah saat HP diambil, dan minim kemampuan berpikir mendalam.

Kasus lainnya, bullying dan cancel culture digital. Satu kesalahan kecil di sekolah bisa direkam, disebarkan secara masif, dan pelaku kesalahan “dibunuh” karakternya secara beramai-ramai oleh netizen. Dampak yang ditimbulkan: depresi, menarik diri dari pergaulan, bahkan bisa bunuh diri.

Dalam banyak kasus yang tersebar di ranah publik, akar masalahnya sesungguhnya bukan pada HP, tetapi pemanfaatan teknologi (digital) yang serampangan, tanpa diimbangi dengan kompas atau pengendali moral. Karena itu, sekali lagi, di sinilah pentingnya penanaman fondasi moral dan pendampingan selagi anak dalam proses bertumbuh kembang, baik secara fisiologis maupun psikologis.

Solusi Konstruktif

Bagaimana menyikapi masifnya era digital terkait dengan proses tumbuh-kembang anak dan remaja? Melarang total bersentuhan dengan dunia digital tentu tidak realistis. Sebab, kehadiran digitalisasi merupakan keniscayaan. Solusinya adalah: pentingnya literasi digital, pembatasan, dan keteladanan orang tua dan guru.

Orang tua bisa berfungsi jadi Chief Technology Officer di rumah. Berlakukan aturan yang jelas dan taat asas (konsisten) dalam pelaksanaannya. Kalau perlu, buatlah “kontrak digital keluarga”. Misalnya, penggunaan HP diperbolehkan hingga pukul 21.00 atau 22.00 WIB sebelum istirahat/tidur, kecuali darurat. Juga bisa diberlakukan pola 1 jam medsos : 1 jam membaca/belajar.

Dalam praktiknya, orang tua bisa menjadi pendamping, bukan memata-matai. Sesekali perlu nonton bareng yang dikemas penuh keakraban. Keteladanan digital bisa dimulai dari meja makan tanpa layar HP.

Pilar kedua –setelah peran orang tua di rumah–, menjadikan sekolah sebagai “benteng literasi digital”. Mata pelajaran wajib bukan cuma TIK, tapi juga Etika Digital. Siswa perlu diperkenalkan dengan model jejak digital, konten hoaks, cyberbullying, juga manajemen keuangan digital.

Dalam praktiknya, guru bisa menjadi kurator. Jangan melarang penggunaan ChatGPT, tetapi ajarkan cara memanfaatkan teknologi AI secara kritis. Tekniknya, check and crosscheck terhadap semua informasi yang masuk, jangan ditelan mentah-mentah. Program mentoring juga bisa diterapkan dengan menjadikan kakak kelas atau guru sebagai tempat curhat saat anak kena masalah di dunia maya.

Di luar lingkungan keluarga dan sekolah, hadirnya negara dalam bentuk regulasi terhadap platform yang bertanggung jawab, perlu dilakukan. Platform wajib memiliki verifikasi umur yang sesuai dengan konten. Algoritma tidak boleh mendorong adanya konten kekerasan atau praktik judi online ke anak.

Ekosistem konten positif perlu terus dikembangkan. Berikan dukungan dan apresiasi terhadap kreator yang bikin konten edukasi, sirah, sains, skill, dan sejenisnya. Jangan biarkan algoritma hanya memutar konten sensasi yang justru berpotensi merusak. Tak kalah pentingnya, buka layanan konseling digital: Puskesmas dan sekolah perlu menyediakan psikolog yang paham masalah dampak kecanduan gadget dan cyberbullying.

Teknologi digital akan terus berubah dan berkembang sesuai tuntunan zaman. etapi, satu hal yang tidak pernah berubah adalah: anak tetap butuh orang dewasa yang hadir mendampingi. Jangan sampai kita sibuk mengajari anak cara menggunakan aplikasi, tanpa melengkapi dengan fitur “menerapkan hati nurani”.

Pada akhirnya, yang menyelamatkan anak-anak dari dampak negatif digitalisasi bukanlah firewall yang canggih. Tetapi, suasana rumah dan sekolah yang hangat dan ramah, serta hadirnya orang tua dan guru yang bisa menjadi teladan. Wallahu a’lam bishawab. {*}

*) SUHARTOKO, Pemimpin Redaksi www.radarjatim.id.

Tags: era digitalKeniscayaan TeknologiKeteladananMendidik Anaksuhartoko

Related Posts

Merdeka, tapi Belum

Merdeka, tapi Belum

by Radar Jatim
17 Agustus 2026
0

Catatan Pinggiran Suhartoko Setiap memasuki...

Konferensi Internasional AICoMS ke-3 Digelar di Surabaya, Integrasikan SDGs ke Enam Disiplin di Era Digital

Konferensi Internasional AICoMS ke-3 Digelar di Surabaya, Integrasikan SDGs ke Enam Disiplin di Era Digital

by Radar Jatim
9 Juli 2026
0

SURABAYA (RadarJatim.id) – Di tengah derasnya...

UMKM Mesti Naik Kelas

UMKM Mesti Naik Kelas

by Radar Jatim
1 Juli 2026
0

Catatan Pinggiran Suhartoko Kondisi perekonomian...

Load More

Radar Jatim Video Update

Berita Populer

  • Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Soft Launching KM Dharma Kencana V, Fasilitas Mewah Berkapasitas 1.400 Penumpang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Padati Alun-alun Tugu Malang, Dukung MBG Menuju 82 Juta Penerima Manfaat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Doakan Keluarga Besar SMK Antartika 2 Sidoarjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Analisis Semantik Puisi ‘Aku Ingin’ Karya Sapardi Djoko Damono

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Radar Jatim adalah media online Jatim yang memberikan informasi peristiwa dan berita Jawa Timur dan Surabaya terkini dan terbaru.

Kategori

  • Artikel dan Opini
  • Ekonomi Bisnis
  • Ekosistem Lingkungan
  • Esai/Kolom
  • Feature
  • Finance
  • HAM
  • Hukum dan Kriminal
  • Infrastruktur
  • Kamtibmas
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Ketenagakerjaan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Lain-lain
  • Layanan Publik
  • Lifestyle
  • Literasi
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Ormas
  • Otomotif
  • Pariwisata
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pertanian
  • Peternakan
  • pinggiran
  • Politik
  • Religi
  • Sastra/Budaya
  • Sosial
  • Tekno
  • TNI
  • TNI-Polri
  • Transportasi
  • video
  • Wisata

Kami Juga Hadir Disini

© 2020 radarjatim.id
Susunan Redaksi ∣ Pedoman Media Siber ∣ Karir

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Tekno
  • Ekonomi Bisnis
  • Artikel dan Opini

© 2020radarjatim.id

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In