Oleh Much. Khoiri
Ada satu pertanyaan yang jarang saya dengar dilontarkan kepada mereka yang baru pertama kali ingin menulis: “Apakah kau yakin?” Bukan tentang punya bakat atau tidak, bukan juga tentang modal materi. Pertanyaan itu menyentuh inti yang lebih dalam: kesiapan untuk menapaki proses yang panjang, tak kenal lelah, dan sama sekali tidak instan.
Saya masih ingat malam itu. Pada tahun 1986, di sebuah kamar indekos sempit, saya duduk di depan mesin ketik dan menatap kertas kosong selama 3 jam. Tidak ada satu kata pun yang lahir. Saya frustrasi, hampir menyerah. Tapi sesuatu berbisik: “Tulislah, meski hanya satu paragraf.” Saya menulis. Paragraf itu jelek. Tapi dari situlah semuanya dimulai. Malam itu saya memutuskan untuk tidak lagi menulis hanya saat “inspirasi datang.” Saya memutuskan untuk menjadikan menulis sebagai rutinitas—rata-rata 20 tulisan per bulan saya kirimkan ke media massa.
Memori pertanyaan itulah—setelah menulis puluhan buku sejak 2010—yang menggerakkan saya untuk menulis buku Becoming a Creative Writer: Proses Kreatif Menuju Buku Paling Dicari (2025). Saya menulisnya bukan karena saya merasa telah tiba di puncak, melainkan karena saya sendiri masih berada di jalan yang sama—jalan yang kadang terjal, kadang terang, dan tak jarang membuat saya ingin berhenti. Buku ini adalah catatan perjalanan (writer’s journey)saya, sekaligus bisikan untuk diri saya sendiri agar terus melangkah.
Saya memulai buku ini dengan sebuah fondasi yang saya yakini: menulis adalah ibadah. Bukan sekadar slogan motivasi, tetapi sebuah keputusan etis yang mengubah cara saya memandang kata-kata. Saya mengutip QS. Al-‘Alaq: 1-5, dan dengan sadar saya menulis bahwa menulis adalah kewajiban. Saya tahu pernyataan ini bisa terdengar ekstrem, tetapi bagi saya, inilah yang membuat saya tetap bertahan saat motivasi memudar.
Salah satu bagian yang paling saya sukai adalah metafora “ikan torani.” Ceritanya lahir dari percakapan sore hari dengan seorang kawan, sebut saja Andi—seorang guru yang ingin menulis tetapi selalu merasa “tidak cukup baik.” Kami duduk di sebuah warung kopi pinggir jalan. Andi mengeluh, “Saya sudah ajak murid-murid menulis, tapi mereka bilang, ‘Jangan harap ikan bisa memanjat, Pak.'”
Saya tersenyum, lalu menjawab, “Kalau begitu, jadikan mereka ikan torani.” Andi menatap saya bingung. Saya menjelaskan: ikan torani tidak memanjat—ia terbang. Ia melampaui habitatnya. Metafora itu lahir dari warung kopi itu, dan sampai sekarang saya menggunakannya untuk mengingatkan diri sendiri dan orang lain bahwa kita semua bisa “melampaui” batas.
Saya juga menegaskan pesan sederhana dalam buku ini: “Menulis itu seperti naik sepeda.” Saya sendiri mengalami jatuh bangun dalam perjalanan ini. Kemahiran datang setelah luka dan kekesalan, setelah berulang kali bangkit dari jatuh. “Yang penting bukan berapa kali jatuh, melainkan berapa kali kita bangun kembali.” Kalimat itu saya tulis untuk mengingatkan diri saya sendiri, sebelum saya mengingatkan orang lain.
Dulu, saya adalah tipe penulis yang menulis satu kalimat, lalu menghapusnya, lalu menulis ulang, lalu menghapusnya lagi. Dalam satu jam, saya hanya menghasilkan beberapa kalimat—dan itu pun masih saya rasa jelek. Saya terjebak dalam siklus setan perfeksionisme. Suatu hari, saya membaca nasihat dari seorang penulis senior: “Kau tidak bisa merevisi halaman kosong.”
Sejak itu, saya mengubah kebiasaan. Saya menulis secara random, tanpa sensor. Saya membiarkan kata-kata mengalir, sekalipun berantakan. Istilahnya, berbicara di atas kertas. Baru setelah selesai, saya merevisi. Hasilnya? Saya bisa menyelesaikan tulisan dalam waktu setengah dari biasanya. Dan yang mengejutkan, hasil akhirnya justru lebih baik karena saya tidak kehilangan energi di awal.
Lalu, saya membangun komunitas Rumah Virus Literasi, yang lahir dari kegelisahan saya melihat teman-teman penulis yang berbakat tetapi mati suri karena menulis sendirian. Saya sendiri merasakan betapa sulitnya bertahan tanpa komunitas. Pada 2017, saya memutuskan untuk mengumpulkan beberapa teman ke dalam satu grup WhatsApp. Kami saling mengirim tulisan, saling mengkritik, dan saling menyemangati.
Komunitas itu tumbuh dan berkembangan. Kini RVL (berbadan hukum) menjadi rumah bagi ratusan penulis dari berbagai daerah. Saya tidak menyangka bahwa sebuah grup kecil bisa menjadi ekosistem tempat penulis lahir dan berkembang. RVL mengajarkan saya bahwa menulis tidak harus dilakukan sendiri. Kadang, kita hanya perlu seseorang yang berkata, “Tulisanmu bagus, lanjutkan.”
Spirit “rajawali” juga saya tuliskan sebagai pengingat. Saya ingat seorang kerabat bertanya dengan nada meremehkan, “Menulis? Emang bisa dijual?” Pertanyaan itu sempat menusuk. Tapi saya memilih untuk tidak membalas. Saya hanya terus menulis. Setiap hari. Saya seperti rajawali yang memilih terbang lebih tinggi, bukan membalas patukan gagak. Ketika buku pertama saya terbit (2010/2011) dan mulai dibaca orang, kerabat yang sama datang meminta tanda tangan. Saya tersenyum. Saya tidak membalas ucapannya dulu—saya hanya membuktikannya dengan karya.
Semua perjuangan terasa tak sia-sia saat saya menerima pesan dari seorang pembaca: “Pak, saya dulu berhenti menulis selama lima tahun. Setelah membaca buku ini, saya mulai menulis lagi. Terima kasih.” Saya membaca pesan itu berulang kali. Di situlah saya sadar bahwa menulis bukan tentang saya, melainkan tentang bagaimana kata-kata dapat menyentuh dan menggerakkan orang lain. Momen kecil seperti itulah yang membuat saya terus melangkah.
Sekarang, saya sadar bahwa buku ini tidak sempurna. Ada bagian yang masih terhubung dengan pengalaman saya di RVL—sebuah komunitas yang sangat saya sayangi. Mungkin bagi pembaca di luar komunitas tersebut, ada rasa “dipaksa” untuk masuk ke dunia penulis. Saya juga mengakui bahwa pembahasan tentang creative nonfiction masih belum mendalam. Saya berencana menulisnya dalam buku lain. Hanya saja, kekurangan ini tidak mengurangi nilai manfaat buku ini—bagi pembaca, dan terutama bagi saya sendiri.
Meski demikian, saya tegaskan bahwa buku Becoming a Creative Writer bukanlah resep instan menuju kesuksesan. Saya menulisnya sebagai teman seperjalanan—untuk diri saya dan untuk siapa pun yang merasa “tersesat” dalam perjalanan kepenulisan. Merekalah yang kehabisan motivasi, yang takut dikritik, yang merasa tidak berbakat, atau yang telah vakum selama bertahun-tahun dan ingin kembali.
Akhirnya, saya menutup buku ini dengan sebelas karakteristik buku paling dicari—sebuah kompas bagi saya sendiri agar karya yang saya hasilkan tidak hanya selesai, tetapi juga dibaca, dinikmati, dan bermanfaat bagi banyak orang. Pada akhirnya, saya ingin berbisik kepada diri saya dan kepada para pembaca: “Jalan ini panjang dan terjal, tapi kita tidak sendirian. Dan percayalah, ikan torani itu benar-benar bisa terbang.” {*}
*Much. Khoiri (nama pena Dr Drs Much. Koiri, MSi) adalah dosen Kajian Sastra/Budaya dan Menulis Kreatif di FBS Unesa, founder Rumah Virus Literasi, editor, penulis 81 buku, serta peresensi dan penulis esai lepas untuk berbagai media massa. Profil lengkap: https://muchkhoiri.com/2021/01/tentang-penulis/*







