SIDOARJO (RadarJatim.id) — Pusat Kajian dan Advokasi Perlindungan dan Kualitas Hidup Anak Universitas Indonesia (PUSKAPA UI), sangat mendukung penuh upaya integrasi materi perubahan iklim ke dalam kurikulum pembelajaran sekolah dasar.
Hal tersebut disampaikan oleh perwakilan PUSKAPA UI, Widi Larasari, di sela-sela kegiatan pelatihan dan pengembangan kit pembelajaran (learning kit) bersama para guru sekolah dasar, yang diselenggarakan oleh Program Inovasi untuk Sekolah Anak Indonesia (INOVASI) kemitraan pendidikan Indonesia dengan Australian bersama PGSD Umsida, selama tiga hari, tepatnya mulai tanggal 23, 24 dan 25 September 2026.
Kegiatan yang dikemas dalam Workshop Pengembangan Media Pembelajaran (Learning Kit) Literasi dan Numerasi berbasis isu PPI (Pendidikan Perubahan Iklim), dengan mengambil pilot project SDN Pucang 1 Sidoarjo, SD Muhammadiyah 1 Candi, MI Negeri 1 Sidoarjo dan SD Al Azhar Sidoarjo.
Di penghujung kegiatan masing-masing peserta mempresentasikan hasil karyanya dihadapan para pemateri. SD Al Azhar menemukan ide learning kit tentang ‘Pahlawan Sampah’, SDN Pucang 1 Sidoarjo ‘Roda Kehidupan Atur Penghematan AC’.
Untuk SD MICA menciptakan learning kit ‘APOTECI’ (Apa Potensi Bencana yang Terjadi ? Jika….). Sedangkan MI Negeri 1 Sidoarjo learning kit tentang permasalahan perubahan iklim yang kemas dalam komik digital.

Setelah milihat, mengamati dan memberikan masukan, salah satu pemateri Widi Larasari dari PUSKAPA UI mengatakan karya-karya mereka sangat luar biasa.
Ia mengungkapkan, PUSKAPA sebelumnya telah memiliki pengalaman dalam mengembangkan modul edukasi perubahan iklim berbasis komunitas untuk kaum muda usia 16 hingga 24 tahun melalui program yang didanai oleh KONEKSI.
Pengalaman tersebut kini dibagikan untuk membantu para pendidik menyusun materi pembelajaran edukatif yang sesuai dengan jenjang sekolah dasar.
”Harapan kami, materi-materi dan learning kit yang dikembangkan ini bisa diintegrasikan ke dalam kurikulum intrakurikuler. Sebab, jika kita lihat dalam kurikulum saat ini, materi khusus mengenai isu perubahan iklim memang belum banyak tersedia,” harap Widi.
Dalam sesi presentasi, ia mengapresiasi keanekaragaman produk media pembelajaran yang dihasilkan para peserta, mulai dari permainan (games), alat peraga, hingga komik dan cerita edukatif.
“Media-media interaktif tersebut sangat luara biasa, dan potensial untuk meningkatkan pemahaman siswa terkait isu lingkungan,” katanya.
Kendati demikian, Widi mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara materi perubahan iklim dan capaian pembelajaran utama dari mata pelajaran yang bersangkutan.
Penerapannya adalah bagaimana memasukkan isu perubahan iklim tanpa menghilangkan capaian pembelajaran utamanya.

Misalnya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, kemampuan literasinya harus tetap tercapai. “Keseimbangan inilah yang justru akan menjadi kekuatan utama dari learning kit yang dikembangkan,” jelasnya.
”Proses pengembangan yang dinilai telah berjalan sesuai jalur (on track) ini diharapkan dapat menghasilkan modul pembelajaran yang efektif, relevan, serta mudah diaplikasikan oleh para guru di kelas,” harap Widi Larasati.(mad)








