SIDOARJO (RadarJatim.id) — Menjadi pendidik bagi anak-anak berkebutuhan khusus (inklusi) menghadirkan cerita dan tantangan tersendiri. Hal ini dirasakan betul oleh tim inklusi SMP Negeri 6 Sidoarjo. Setiap anak yang spesial lahir dengan karakteristik, kelebihan, dan kekurangan masing-masing yang harus dioptimalkan secara sabar dan telaten.
Pendidikan inklusi di SMP Negeri 6 Sidoarjo sendiri bukanlah hal baru, program ini sudah berjalan sejak tahun 2011 silam. Saat awal dibentuk, penanganan siswa inklusi dipercayakan kepada tim Bimbingan Konseling (BK) yang kala itu harus belajar dari nol melalui berbagai pelatihan.
Seiring berjalan waktu, koordinasi program ini terus berkembang hingga dipimpin oleh Koordinator Inklusi sekaligus Guru BK SMP Negeri 6 Sidoarjo, Fany Sulistyowati, S.Pd.,
Mendidik anak inklusi di jenjang SMP diakui oleh Fany Sulistyowati memiliki tantangan yang lebih kompleks. Mereka mulai berada di usia remaja, anak-anak ini mulai mengalami perubahan fisik dan psikis. Mereka mulai mengenal rasa malu, ketertarikan pada lawan jenis, hingga adanya resistensi atau rasa tidak nyaman jika dilabeli sebagai anak inklusi.
“Oleh karena itu, dibutuhkan kesabaran ekstra dan pendekatan yang tepat agar potensi mereka tetap berkembang dengan baik,” tuturnya pada (17/6/2026) pagi.
Maka dari itu, guna mendukung perkembangan para siswa spesial ini, SMP Negeri 6 Sidoarjo menerapkan 5 program unggulan yang inovatif:
Teman TIFA (Teman Aktif dan Mulia): Program sinergi antara tim inklusi dan peserta didik reguler. Di setiap kelas, terdapat anak-anak yang mendaftar secara sukarela (bukan ditunjuk) untuk menjadi pendamping dan sahabat yang peduli bagi teman-teman berkebutuhan khusus mereka.
Catatan Si Jejak: Sebuah program kolaborasi yang mengajak orang tua hebat berkunjung ke sekolah-sekolah yang menerima anak inklusi. Program ini bertujuan agar orang tua dapat mempersiapkan masa depan pendidikan anak sejak dini. Menariknya, inovasi ini sukses meraih Juara 3 dalam ajang KISI tingkat Kabupaten pada tahun 2024.
C-ODing (Order Learning Inklusi): Program pembelajaran di luar kelas yang dikhususkan bagi anak berkebutuhan khusus. Program ini lahir dari aspirasi orang tua siswa (seperti penyandang tuna daksa yang memiliki keterbatasan fisik) agar anak-anak mereka juga dapat merasakan euforia dan semangat belajar di luar kelas seperti anak-anak reguler.
KUPAS (Kumpulan Hasil Karya Siswa): Wadah untuk mengumpulkan dan membukukan hasil karya siswa inklusi setiap tahunnya, baik berupa lukisan maupun kerajinan tangan. Buku kumpulan karya ini nantinya juga dibagikan sebagai suvenir saat kunjungan ke sekolah lain.
“Melalui sinergi yang kuat antara pihak sekolah, program-program inovatif, serta dukungan penuh dari orang tua, seluruh kegiatan pendidikan inklusi di SMP Negeri 6 Sidoarjo dapat berjalan dengan baik dan menjadi ruang yang ramah bagi semua anak,” terangnya.
Program-program tersebut nampak berjalan dengan baik, terbukti pada ajang kompetisi National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Sidoarjo, SMP Negeri 6 Sidoarjo berhasil meraih banyak juara.
Diungkapkan oleh, Fany Sulistyowati bahwa keberhasilitan itu memang keterlibatan aktif orang tua menjadi kunci utama dalam melejitkan potensi para siswa. Pihak sekolah merangkul orang tua untuk bekerja sama membantu anak-anak mengoptimalkan bakat mereka, agar sesuai dengan kategori lomba yang disediakan dalam kegiatan NPCI tersebut.
Disamping itu, dalam mempersiapkan perlombaan, SMP Negeri 6 Sidoarjo tidak main-main. Pihak sekolah mendatangkan pelatih profesional dan melakukan latihan langsung di lokasi yang telah ditentukan.
“Jika memang itu lomba renang yang lokasinya ada di GOR (Gelanggang Olahraga), ya kami mengajak anak-anak untuk langsung latihan di GOR. Kami bekerja sama dengan pelatih renang. Kebetulan salah satu guru kami juga bisa menjadi pelatih renang,” ujar Bu Fany_sapaan akrabnya.
Selama proses persiapan hingga perlombaan, para siswa mendapatkan pengawalan penuh. Orang tua bertugas mengantar dan menjemput anak-anak, sementara tim pembimbing inklusi sekolah senantiasa mendampingi.
“Pola pendampingan serupa juga diterapkan pada cabang olahraga atletik, di mana pihak sekolah turut mendatangkan pelatih khusus agar persiapan anak-anak sebelum lomba benar-benar matang,” jelasnya.
Hasil kompetisi NPCI siswa inklusi SMP Negeri 6 Sidoarjo borong 8 piala dari 9 Siswa yang dikirim. Kalau jumlah siswa inklusi sebanyak 22 anak yang tersebar di beberapa jenjang kelas.
Fany Sulistyowati berharap prestasi yang diraih oleh anak-anak didiknya ini tidak berhenti di momen NPCI Sidoarjo saja, melainkan dapat berlanjut ke ajang-ajang kompetisi yang lebih tinggi lagi, hingga tingkat nasional.(mad)







