SURABAYA (RadarJatim.id) — Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim, Aries Agung Paewai mengatakan tingginya jumlah ATS masih menjadi tantangan nasional, meskipun pemerintah telah menghadirkan berbagai layanan pendidikan, seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), program kejar paket, hingga sekolah terbuka.
“Sebagai ikhtiar pemerintah, tahun ini Kemendikdasmen meluncurkan program PJJ sebagai alternatif untuk memperluas akses pendidikan bagi anak tidak sekolah. Kami menyambut baik dengan melakukan penjaringan secara masif dari rumah ke rumah. Alhamdulillah, 124 calon murid yang kami usulkan merupakan yang terbanyak di seluruh Indonesia,” terang Aries, Senin (3/8/2026).
Jawa Timur telah mengusulkan sebanyak 124 ATS (Anak Tidak Sekolah) untuk mengikuti program PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Ada 109 orang telah lulus tahapan verifikasi dan siap belajar, sedangkan 15 calon murid lainnya masih dalam proses verifikasi. Capaian ini pun menjadikan Jawa Timur berada di peringkat pertama jumlah peserta terbanyak PJJ.
Menurutnya, Dindik Jatim menginstruksikan seluruh cabang dinas pendidikan untuk melakukan pendataan ATS secara intensif, terutama di daerah yang memiliki angka ATS cukup tinggi. Penjaringan dilakukan dengan dua mekanisme, yakni mendatangi langsung masyarakat (door to door) maupun melalui pendaftaran langsung oleh calon peserta. Setelah itu, seluruh data diverifikasi oleh Kemendikdasmen.
Proses verifikasi meliputi wawancara dengan orang tua atau wali, pemeriksaan usia 16–18 tahun untuk peserta kelas X, memastikan calon peserta tidak terdaftar aktif di sekolah lain, serta pengecekan dokumen administrasi seperti kartu keluarga, akta kelahiran, ijazah SMP/MTs, dan surat keterangan putus sekolah.
Dalam pelaksanaan program tersebut, Dindik Jatim menunjuk enam SMA negeri, yakni SMAN 1 Kepanjen senbagai sekolah indul, SMAN Plus Sukowono, SMAN 1 Tosari, SMAN 4 Bangkalan, SMAN 4 Malang, dan SMAN 1 Ambunten sebagai sekolah mitra.
Ditambahkan Kadindik kelahiran Makassar ini bahwa, program PJJ menyasar ATS berusia 16–18 tahun, anak putus sekolah, anak yang sudah bekerja, masyarakat di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), serta anak dengan kondisi khusus yang tidak memungkinkan mengikuti pembelajaran secara rutin di sekolah.
“Skema pembelajaran dilaksanakan dengan komposisi 30 persen pembelajaran sinkron melalui tatap maya dan 70 persen pembelajaran asinkron atau belajar mandiri,”urainya.
Ia juga menambahkan bahwa peserta memperoleh modul pembelajaran, pulsa untuk kuota internet, akun Belajar.id, akses Learning Management System (LMS), layanan konsultasi secara tatap muka maupun daring bersama guru pendamping, serta ijazah yang setara dengan sekolah reguler.
Aries berharap semakin banyak ATS yang bergabung dalam program tersebut sehingga angka anak tidak sekolah di Jawa Timur terus menurun.
“Harapannya semakin banyak siswa yang mengikuti program ini sehingga jumlah anak tidak sekolah dapat terus berkurang,” pungkasnya.(mad)







