Oleh Much. Khoiri
Tahun Baru Hijriyah 1448 H menjadi momentum refleksi di tengah krisis yang melanda negeri ini. Di tengah sulitnya menyuarakan protes di ruang publik, menulis menjadi wahana strategis untuk memperjuangkan nasib rakyat.
Tidak ada yang baik-baik saja, terlebih bagi masyarakat yang kesehariannya sulit.
Itulah kesimpulan yang tak terelakkan ketika melihat indikator sosial-ekonomi dalam enam bulan terakhir. Harga bahan pokok melonjak hingga 20-30 persen di sejumlah daerah, disusul kenaikan harga BBM yang memicu efek domino ke seluruh sektor. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menembus batas psikologis yang sebelumnya tak pernah terbayangkan.
Di sisi lain, ruang demokrasi menyempit. Aksi protes yang seharusnya menjadi hak konstitusional warga negara (konon akan) dihadapi dengan pengerahan aparat TNI, bukan sekadar polisi dalam koridor Kamtibmas. Itu akan menciptakan iklim ketakutan baru. Masyarakat berada dalam posisi terjepit: antara bersabar dalam keterdesakan dan berjuang di tengah risiko represi.
Namun, perjuangan tidak harus selalu monolitik. Dalam konteks keterbatasan ruang gerak fisik, menulis terbukti menjadi wahana yang efektif untuk memperjuangkan nasib kolektif.
Menulis: Sarana Dokumentasi dan Perlawanan
Secara historis, rezim-rezim pemerintahan di mana pun paling takut pada tulisan yang terdokumentasi dengan baik. Dalam konteks inilah, menulis memungkinkan masyarakat mencatat secara kronologis kenaikan harga dan menyuarakan dampaknya terhadap rumah tangga.
Selain itu, menulis juga bisa digunakan untuk mengkritisi kebijakan pemerintah dengan data dan argumentasi yang tertata, bukan hanya emosi dan anarki. Bahkan, menulis itu mampu membangun narasi alternatif yang tidak dikendalikan oleh mesin propaganda negara. Menulis menjadi ruang ketiga yang efektif.
Dalam konteks Indonesia pasca-reformasi, penting untuk diingat bahwa gerakan mahasiswa 1998 tidak hanya mengandalkan jalanan, tetapi juga pamflet, selebaran, buletin, dan jurnal-jurnal bawah tanah. Tulisan adalah amunisi jangka panjang yang tak bisa disita.
Menulis: Ruang Baru Perjuangan
Meskipun ruang digital juga mulai dibatasi oleh berbagai regulasi, media sosial, blog, platform artikel, dan layanan pesan masih menyediakan celah bagi warga untuk menuliskan kegelisahan mereka. Menulis tidak harus berbentuk opini panjang; bisa berupa catatan harian yang dibagikan secara terbatas, utas Twitter yang merekam kronologi, atau laporan warga yang dikirim ke jaringan jurnalis independen.
Yang terpenting, menulis dengan jelas menciptakan memori kolektif. Ketika media arus utama cenderung melakukan self-censorship, tulisan-tulisan warga menjadi arsip yang akan dibaca oleh generasi mendatang. Mereka akan tahu, bahwa pada tahun 1448 H ini, rakyat Indonesia tidak pasrah.
Berhijrah dengan Pena
Tahun Baru Hijriyah mengajarkan, bahwa hijrah adalah perpindahan menuju kondisi yang lebih baik, meskipun jalannya terjal. Saat ini, hijrah dapat dimaknai sebagai perpindahan strategi perjuangan dari mobilisasi massa yang berisiko tinggi ke mobilisasi literasi yang lebih berkelanjutan.
Pemerintah boleh memperkuat aparat di jalanan untuk bertindak represif. Namun, pemerintah tidak akan pernah bisa membekap semua pena yang menulis di kamar-kamar sempit, di warung kopi, di sudut-sudut kampus, dan di ruang-ruang digital yang tersebar tanpa batas.
Maka, di tahun baru Hijriyah ini, mari kita jadikan menulis sebagai wahana utama dalam perjuangan nasib, setidaknya menyuarakan aspirasi untuk kebaikan. Bukan karena kita lemah, tetapi karena kita cerdas. Bukan karena kita takut, tetapi karena kita sadar, bahwa perjuangan yang tak tercatat adalah perjuangan yang akan dilupakan oleh sejarah. {*}
*Much. Khoiri (nama pena Dr Drs Much. Koiri, MSi) adalah dosen Kajian Sastra/Budaya dan Menulis Kreatif di FBS Unesa, founder Rumah Virus Literasi, editor, penulis 81 buku, serta peresensi dan penulis esai lepas untuk berbagai media massa. Profil lengkap: https://muchkhoiri.com/2021/01/tentang-penulis/






