SIDOARJO (RadarJatim.id) — Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Sidoarjo mencatat tren positif dalam menekan angka pengangguran. Berdasarkan data terbaru, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sidoarjo pada akhir tahun 2025 berada di angka 5,75% dan terus menunjukkan tren penurunan yang konsisten selama empat tahun terakhir memasuki tahun 2026 ini.
Keberhasilan ini tidak lepas dari berbagai program strategis yang dirancang oleh pemerintah daerah melalui Disnaker guna menyerap tenaga kerja lokal ke sektor formal.
Itulah keterangan Kepala Disnaker Sidoarjo Dwi Eko Saptono, usai mengikuti Upacara Hari Lahir Pancasila, pada (1/6/2026) pagi di Alun-alun Sidoarjo.
Menurutnya capaian tersebut banyak terobosan dan inovasi yang telah dijalankan dengan baik. Jadi, pemerintah daerah terus menggenjot program pelatihan kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja formal. Selain pelatihan, terbaru, Disnaker Sidoarjo saat ini tengah berfokus pada program pemagangan sebagai jembatan bagi para pencari kerja untuk langsung diserap oleh perusahaan.
“Kami sedang melakukan uji coba program pemagangan. Harapannya, setelah selesai magang, para peserta bisa langsung diterima bekerja. Program ini akan terus kami lanjutkan di tahun-tahun berikutnya,” terangnya.

Langkah ini juga mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat. Pada tahun ini, Disnaker Sidoarjo berhasil mendapatkan kuota program pemagangan luar negeri untuk 50 orang. Kebijakan ini diambil sebagai solusi strategis di tengah tantangan isu global yang berdampak pada pasar kerja domestik.
“Ketika kondisi pasar kerja di dalam negeri masih menghadapi beberapa permasalahan, terutama terkait isu global saat ini, maka kebijakan penempatan dan pemagangan ke luar negeri menjadi salah satu solusi. Tahun ini kita dapat kuota untuk 50 orang,” jelasnya.
Adapun program yang sudah berjalan dengan baik, Sidoarjo yang dikenal sebagai kota industri, Disnaker Sidoarjo juga kian masif mengintegrasikan program Job Matching dan Bursa Kerja Khusus (BKK) di lingkungan sekolah. Saat ini, seluruh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Sidoarjo telah dijadikan objek pelaksanaan program tersebut.
Langkah ini dinilai sangat efektif berdasarkan data pelacakan lulusan (tracer study) yang menunjukkan hasil yang memuaskan.
“Sidoarjo ini adalah kota industri. Oleh karena itu, program BKK dan Job Matching disesuaikan dengan kebutuhan tersebut. Alhamdulillah, hasil tracer menunjukkan serapan lulusan SMK Sidoarjo di dunia kerja formal sudah sangat bagus,” jelas Pak Dwi_sapaanya.
Termasuk Job Fair Mei 2025 di Gedung Serbaguna GOR Sidoarjo, yang menawarkan 1.800 lowongan pekerjaan dari 40 perusahaan. Pelamaran dilakukan secara online melalui portal resmi Siap Kerja Sidoarjo dan dilanjutkan dengan verifikasi tatap muka.
Meskipun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tetap menjadi opsi bagi lulusan, target utama dari optimalisasi SMK melalui BKK ini adalah memastikan para lulusan siap dan cepat mendapatkan pekerjaan setelah lulus sekolah. “Dua program unggulan ini dinilai menjadi instrumen paling efektif dalam menurunkan angka pengangguran secara langsung di Sidoarjo,” katanya.

Angka Pengangguran Sidoarjo Menurun Hingga 5,75 Persen Jadi Tantangan di Tengah Melimpahnya Industri.
Sementara itu, Kabid Penta Disnasker Sidoarjo Yulita Indah Prasetiari, SE M.AP juga menjelaskan kalau angka pengangguran di wilayah Sidoarjo terjadi penurunan yang signifikan.
Ia terangkan, tingkat pengangguran 2025 berada di angka 5,75 persen. Angka ini sebenarnya telah mengalami penurunan yang signifikan dari tahun 2024 yang mencapai 6,49 persen. “Penurunan lebih dari 1 persen dalam setahun merupakan pencapaian yang positif bagi daerah,” terangnya.
Menurutnya, Kabupaten Sidoarjo, dikenal sebagai salah satu daerah industri utama di Indonesia. Hal ini tercermin dari data Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sidoarjo, di mana 48% di antaranya berasal dari sektor manufaktur atau industri pengolahan. Angka ini menegaskan bahwa ekonomi Sidoarjo sangat bergantung pada sektor industri.
Meskipun memiliki basis industri yang kuat, Kabupaten Sidoarjo masih menghadapi tantangan besar dalam hal pengangguran. Tingkat Pengangguran 2025, berada di angka 5,75%. Tren Penurunan, angka ini sebenarnya telah mengalami penurunan yang signifikan dari tahun 2024 yang mencapai 6,49%. Penurunan lebih dari 1% dalam setahun merupakan pencapaian yang positif bagi daerah.
“Ironisnya, meski menurun, Sidoarjo masih menempati peringkat atas dengan tingkat pengangguran tertinggi di Provinsi Jawa Timur selama tiga tahun berturut-turut,” jelasnya.
Lanjutnya, data dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) oleh BPS menunjukkan adanya ketimpangan antara minat generasi muda dengan struktur ekonomi yang ada di Sidoarjo.
Sektor pekerjaan persentase minat angkatan kerja muda sektor jasa 57% sektor manufaktur 37% lainnya (Pertanian/Wirausaha) 6%. Tingginya minat pada sektor jasa berbanding terbalik dengan ketersediaan lapangan kerja yang didominasi oleh industri pengolahan. Akibatnya, banyak posisi di sektor industri justru diisi oleh pekerja dari luar daerah Sidoarjo.
Para praktisi HRD di Sidoarjo seringkali mengeluhkan perilaku kerja generasi muda setempat yang dianggap kurang memiliki ketahanan kerja. Muncul istilah-istilah unik untuk menggambarkan fenomena ini:
Muntaber (Mundur Tanpa Berita)- Kondisi di mana pekerja baru saja menandatangani kontrak di pagi hari, namun menghilang atau mengundurkan diri tanpa kabar setelah jam istirahat siang. Dan Diare (Diam-diam Resign) -Pekerja yang baru bekerja selama 2-3 hari kemudian mengundurkan diri secara mendadak.
“Selain faktor ketahanan kerja, kecenderungan untuk terlalu fokus pada besaran gaji di awal serta keengganan untuk bekerja di lokasi yang sedikit jauh dari rumah menjadi kendala utama bagi tenaga kerja lokal dalam menyerap peluang di industri Sidoarjo,” ungkapnya.

Harapan untuk Masa Depan
Melalui kegiatan seperti job fair dan walk-in interview, diharapkan para pencari kerja, khususnya lulusan SMK di Sidoarjo, dapat memahami lebih dalam mengenai job description dan posisi yang ditawarkan.
“Penguatan mental dan semangat kerja menjadi kunci agar generasi muda Sidoarjo tidak hanya menjadi penonton di rumah sendiri, tetapi mampu menjadi penggerak utama industri di daerahnya,” katanya dihadapan para calon pencari kerja baru, alias lulusan SMK Sepuluh Nopember Sidoarjo lalu.
Begitu juga di SMK Antartika 2 Buduran Sidoarjo tidak mau siswanya, atau alumninya yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi menjadi pengangguran. Oleh karena itu pihaknya telah menggandeng 15 perusahaan/industri untuk memfasilitasi sebanyak 250 lowongan pekerjaan. Proses rekrutmen dilakukan secara bersama-sama digelar dalam Job Matching.
Kepala SMK Antartika 2 Sidoarjo Retno Purwosulystiorini, S.Pd M M.Pd menyampaikan banyak terima kasih kepada para industri yang telah peduli mencari tenaga kerja dari anak-anak kami. “Kami sampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya apresiasi yang benar-benar tulus ikhlas dari kami untuk kesetiaan industri 15 industri yang hadir untuk mengikuti gelar Job Matching ini,” ucapnya.
Job Matching ini kami harapkan menjadi agenda paling tidak dua tahun sekali yang akan diadakan di SMK Antartika 2 Sidoarjo untuk membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran. Maka peranserta industri sangat kami butuhkan untuk menjawab tantangan kalau SMK bukan penyumbang pengangguran, tetapi adalah sekolah menuju kesuksesan. “Semoga motivasi ini juga melekat kepada semua anak-anak kami,” katanya.
SMK ini sangat luas cakupannya tidak hanya bekerja, bisa kuliah, bisa melakukan wirausaha sendiri dengan kompetensi yang dimiliki selama 3 tahun belajar di sekolah. “Sebaliknya untuk industri kami berharap dengan kompetensi yang ada di sekolah, Insya Allah bisa mencakup semuanya yang ada di industri,” harapnya.
Kami juga berharap bagi anak-anak yang belum banyak pengalaman, mungkin kawan-kawan industri bisa melihat dari sisi yang lain, bisa soft skill nya atau karakternya yang bisa menjadi nilai lebih.
“Semoga Job Matching ini menjadi kesempatan yang terbaik, menjadi batu loncatan untuk anak didik kami, dan bisa menjadi jawaban para industri ketika kesulitan untuk mencari tenaga kerja,” harap Bu Retno_sapaan akrabnya.
Ketua FBKK SMK Sidoarjo Ahmad Robby juga berharap program Job Matching ini bisa menetralisir, terutama informasi tentang lowongan pekerjaan yang tidak sebenarnya. Kegiatan yang bagus ini bukan formalitas, namun benar-benar berjalan sebagaimana mestinya.
Kami memohon kepada para sahabat industri sampaikan kepada kami, bila anak-anak kami kurang memenuhi syarat, bisa sebagai evaluasi. “Banyak anak-anak yang bertanya sudah disiapkan dengan baik, latihan interview namun tidak ada hasilnya, bahkan materi pertanyaan dari industri tidak sama sekali dengan yang dipelajari,” harapnya.(adv.mad)







